Kabarindonesianews – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk kelompok B3 di dapur SPPG Waskita Yayasan Sayagi Mitra Bangsa yang beralamat di Jalan H. Waskita No. 31 RT 01/01, Kelurahan Cilendek Barat, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, menuai sorotan tajam. Menu yang dibagikan kepada balita, ibu hamil, dan ibu menyusui dinilai jauh dari standar gizi seimbang yang menjadi tujuan utama program nasional tersebut.
Temuan itu didapat tim media saat melakukan penelusuran langsung di Posyandu Flamboyan XI RW 011, Kelurahan Cilendek Barat, Jumat (22/5/2026).
Dalam penyaluran MBG kategori balita non-PAUD atau menu kecil, penerima manfaat hanya mendapatkan satu buah apel dan satu kotak susu kecil. Sementara untuk kategori ibu hamil dan ibu menyusui atau menu besar, paket yang dibagikan hanya terdiri dari satu buah apel, empat butir anggur, dan satu kotak susu kecil.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan serius terkait kelayakan intervensi gizi bagi kelompok B3 yang sejatinya merupakan sasaran prioritas dalam program MBG. Pasalnya, kelompok balita, ibu hamil, dan ibu menyusui membutuhkan asupan nutrisi lengkap dan seimbang guna mencegah stunting, kekurangan energi kronis (KEK), anemia, hingga gangguan tumbuh kembang anak.
Menu yang dibagikan bahkan dinilai belum memenuhi unsur dasar gizi seimbang karena tidak ditemukan sumber protein utama seperti telur, ikan, ayam, daging, tempe, tahu, maupun kacang-kacangan. Padahal, protein merupakan komponen penting dalam pembentukan jaringan tubuh, perkembangan otak anak, hingga menjaga kesehatan ibu hamil dan menyusui.
Jika dibandingkan dengan kebutuhan gizi harian kelompok rentan, paket berupa satu apel dan susu kecil untuk balita dinilai sangat minim. Begitu pula tambahan empat butir anggur pada paket ibu hamil dan menyusui yang dianggap belum cukup merepresentasikan menu intervensi gizi yang layak dalam program negara bernilai miliaran rupiah tersebut.
Salah seorang kader Posyandu Flamboyan XI yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan menu tersebut disebut sebagai “menu kering” dan baru diterapkan dalam beberapa hari terakhir.
“Baru dua hari ini menu seperti ini dibagikan. Sebelumnya makanan masakan,” ujarnya kepada tim media.
Ia juga menyebutkan jumlah penerima manfaat di Posyandu Flamboyan XI mencapai 48 Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
Sementara itu, salah seorang warga penerima manfaat mengaku heran karena pola distribusi MBG B3 dalam sepekan terakhir dilakukan berturut-turut, berbeda dengan sebelumnya yang disebut hanya dua kali dalam seminggu.
“Biasanya cuma dua kali seminggu,” ujar warga tersebut.
Tim media kemudian mencoba meminta konfirmasi kepada pihak dapur SPPG Waskita melalui pesan WhatsApp terkait standar menu, dasar pemberian menu “kering”, hingga mekanisme pengawasan kualitas makanan yang diberikan kepada kelompok B3. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada jawaban resmi dari pihak pengelola dapur.
*Dinilai Tidak Mencerminkan Standar Gizi Seimbang*
Berdasarkan pedoman Badan Gizi Nasional (BGN), menu MBG untuk kelompok B3 wajib memenuhi prinsip Angka Kecukupan Gizi (AKG) dengan komposisi gizi seimbang yang mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan serat.
Dalam berbagai sosialisasi program MBG, BGN juga menekankan bahwa kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita merupakan prioritas utama yang membutuhkan intervensi gizi berkualitas, bukan sekadar makanan ringan atau buah pelengkap.
Karena itu, menu berupa satu apel dan susu kotak kecil untuk balita, serta tambahan empat butir anggur bagi ibu hamil dan menyusui, dinilai belum mencerminkan standar menu bergizi yang ideal. Tidak adanya sumber protein dan makanan pokok dalam paket tersebut memperkuat dugaan bahwa kualitas menu MBG B3 di lapangan masih perlu dievaluasi secara serius.
Temuan ini diharapkan menjadi perhatian Badan Gizi Nasional (BGN), pemerintah daerah, serta pihak terkait lainnya untuk segera melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap dapur penyedia MBG, khususnya yang menangani kelompok rentan B3. Sebab, program MBG sejatinya bukan sekadar membagikan makanan, melainkan memastikan terpenuhinya kebutuhan gizi masyarakat secara layak, aman, dan berkualitas.(Tim)
Leave a Reply