Kabarindonesianews– Pemerintah Desa Rancabungur, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor, terus mendorong pemerataan pembangunan melalui pemanfaatan Bantuan Keuangan (BanKeu) Akselerasi Tahun Anggaran 2026. Tak hanya menyasar infrastruktur, program tersebut juga menyentuh sektor pendidikan, lingkungan, digitalisasi pelayanan, hingga perlindungan sosial masyarakat.
Kepala Desa Rancabungur, Saepudin, S.IP., menjelaskan, terdapat lima titik kegiatan infrastruktur yang menjadi prioritas pembangunan tahun ini. Kegiatan tersebut meliputi betonisasi jalan, pembangunan tiga titik Tembok Penahan Tanah (TPT), saluran air, serta penataan kawasan ikonik bertajuk Kampung Dayeuh Pajajaran di RW 02.
“Untuk tahun ini ada betonisasi jalan, tiga kegiatan TPT, saluran air, dan yang paling ikonik kita membangun Kampung Pajajaran di wilayah RW 02, Kampung Watas, kompleks samping kecamatan,” ujar Saepudin.
Lima Titik Pembangunan untuk Pemerataan Infrastruktur
Dalam pelaksanaannya, pembangunan infrastruktur melalui BanKeu Akselerasi mencakup betonisasi jalan sepanjang 480 meter dengan lebar 2,5 meter. Selain itu, pembangunan TPT dilakukan dengan ukuran yang menyesuaikan kondisi serta kontur tanah di masing-masing lokasi.
Salah satu pekerjaan TPT memiliki panjang sekitar 90 meter dengan tinggi 2,4 meter. Pembangunan dan penataan lingkungan juga tersebar di sejumlah wilayah RW, mulai dari RW 01 hingga RW 05, mencakup pembangunan turap, saluran air berbahan beton, dan peningkatan kualitas lingkungan permukiman.
Tak sekadar membangun infrastruktur dasar, Pemerintah Desa Rancabungur juga menyiapkan Kampung Dayeuh Pajajaran di RW 02 sepanjang kurang lebih 100 meter.
Kawasan tersebut dirancang dengan mengangkat ornamen dan identitas budaya Sunda. Sejumlah fasilitas yang direncanakan meliputi gapura selamat datang bernuansa adat Sunda, Bale Rahayu, pos ronda, serta penataan lingkungan agar kawasan terlihat lebih tertata dan memiliki ciri khas tersendiri.
“Untuk Dayeuh sendiri, maknanya penataan lingkungan dengan ornamen Sunda. Kita ingin kawasan ini memiliki identitas dan bisa menjadi kebanggaan masyarakat Desa Rancabungur,” jelasnya.
Kampung Pajajaran Dilengkapi Pengelolaan Sampah Terpadu
Pembangunan Kampung Dayeuh Pajajaran tidak hanya berorientasi pada keindahan kawasan. Pemdes Rancabungur turut menyiapkan fasilitas pengelolaan sampah untuk mendukung kebersihan lingkungan secara berkelanjutan.
Fasilitas yang disiapkan mencakup tempat sampah, bank sampah, gerobak pengangkut sampah, hingga kendaraan pengangkut sampah.
Dengan konsep tersebut, kawasan Kampung Dayeuh Pajajaran diharapkan tidak hanya menjadi lingkungan yang tertata dan memiliki nilai budaya, tetapi juga mampu mendorong kebiasaan masyarakat dalam menjaga kebersihan serta mengelola sampah secara lebih terorganisasi.
Gebrakan di Bidang Pendidikan, Dua Warga Dibiayai Kuliah Sarjana
Di luar pembangunan fisik, BanKeu Akselerasi 2026 juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program beasiswa pendidikan tinggi.
Saepudin mengungkapkan, Pemerintah Desa Rancabungur memberikan beasiswa sarjana kepada dua warga dari kalangan masyarakat umum yang membutuhkan dukungan pendidikan. Keduanya saat ini telah memulai perkuliahan.
“Kita ada beasiswa sarjana untuk dua orang dari masyarakat umum dan sekarang sudah mulai kuliah. Yang satu Azza mengambil jurusan Teknik Informatika dan Jaringan Komputer, sedangkan Jessica mengambil Manajemen Perpajakan. Keduanya perempuan dan berprestasi,” ungkapnya.
Program tersebut diharapkan dapat membuka kesempatan bagi warga yang memiliki kemampuan akademik, tetapi menghadapi keterbatasan ekonomi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Selain memberikan beasiswa kepada masyarakat, Pemdes Rancabungur juga mendukung peningkatan kompetensi aparatur desa. Tiga staf desa, yakni Kaur Keuangan, Kaur Pemerintahan, dan Kaur Kesejahteraan Rakyat (Kesra), turut mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan.
Menurut Saepudin, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kapasitas sumber daya manusia agar pelayanan pemerintahan desa semakin baik dan profesional.
Digitalisasi Pendataan Penduduk Capai 75 Persen
Program lainnya yang tengah berjalan adalah digitalisasi pendataan penduduk. Hingga saat ini, proses tersebut diklaim telah mencapai sekitar 75 persen.
Digitalisasi diharapkan dapat membantu pemerintah desa dalam memperbarui data kependudukan sehingga pelayanan administrasi dan perencanaan program pembangunan dapat dilakukan secara lebih efektif.
Di sektor perlindungan sosial, Pemdes Rancabungur juga menjalankan program pemberian jaminan BPJS Ketenagakerjaan bagi warga kurang mampu yang masuk kategori desil 1–4, sesuai kriteria program yang diterapkan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah desa untuk memperluas perlindungan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.
Progres Tahap Pertama Capai 60 Persen
Saepudin menyampaikan, realisasi BanKeu Akselerasi tahap pertama saat ini telah mencapai sekitar 60 persen. Pemerintah desa menargetkan progres meningkat menjadi 75 persen sebagai salah satu persyaratan untuk mengajukan pencairan tahap kedua.
Ia menjelaskan, penentuan program pembangunan telah melalui musyawarah desa dengan melibatkan unsur RT dan RW. Dengan demikian, kegiatan yang dijalankan diharapkan sesuai kebutuhan dan prioritas masyarakat.
Terkait pemilihan RW 02 sebagai lokasi Kampung Dayeuh Pajajaran, Saepudin menyebut kawasan tersebut memiliki prestasi dalam lomba kebersihan tingkat kecamatan.
“Sebelumnya kita musyawarahkan dulu melalui Musyawarah Desa. Seluruh RW dan RT dipanggil. Alasan RW 02 terpilih untuk Kampung Dayeuh Pajajaran karena wilayah tersebut menjadi pemenang lomba kebersihan tingkat kecamatan. Kita berikan reward karena mereka sudah membawa nama harum Desa Rancabungur,” tegasnya.
Jalan Lebih Baik, Aktivitas Warga dan Petani Terbantu
Saepudin berharap berbagai pembangunan yang dilaksanakan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama dalam menunjang mobilitas warga, akses pendidikan, serta aktivitas pertanian.
Ia menuturkan, sebelum jalan diperbaiki, warga harus menghadapi kondisi jalan berbatu dan becek, terutama saat musim hujan. Kondisi tersebut cukup menyulitkan anak-anak ketika berangkat sekolah maupun petani yang hendak membawa hasil panen.
“Dulu anak sekolah sepatunya harus ditenteng, pakai sandal dulu. Sekarang sepatunya langsung bisa dipakai. Akses tani juga lebih mudah,” tuturnya.
Menurutnya, pembangunan jalan bukan sekadar memperbaiki kondisi fisik infrastruktur, tetapi juga membuka akses yang lebih layak bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Siapkan Delapan Toren Air dan Sumur Bor untuk Atasi Kekeringan
Tak berhenti pada pembangunan tahun ini, Pemerintah Desa Rancabungur juga mulai merencanakan langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan pada 2027.
Rencana tersebut disiapkan menyusul pengalaman warga yang sebelumnya mengalami kesulitan memperoleh air bersih ketika musim kemarau tiba.
Pemdes Rancabungur merencanakan pengadaan delapan toren air serta pembangunan sumur bor di dua RW yang dinilai paling terdampak kekeringan.
Program tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, khususnya ketika sumber air mengalami penurunan selama musim kemarau.
Saepudin berharap rencana tersebut dapat direalisasikan sehingga persoalan kesulitan air bersih yang kerap dialami warga bisa ditangani secara lebih baik.
“Harapannya, ke depan wilayah yang mengalami krisis air bersih saat musim kemarau bisa terbantu dengan adanya pengadaan delapan toren dan sumur bor,” pungkasnya.
Melalui berbagai program tersebut, Pemerintah Desa Rancabungur berupaya menghadirkan pembangunan yang tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan publik, kebersihan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.(Nia)

Leave a Reply