Mahkota Binokasih Kembali ke Kabupaten Bogor Setelah Ratusan Tahun

Kabarindonesianews-Untuk pertama kalinya setelah ratusan tahun tak menginjakan kaki di kabupaten Bogor, Mahkota Binokasih Sanghyang Pake kembali menginjakkan “kakinya” di tanah Kabupaten Bogor. Mahkota peninggalan Kerajaan Sunda tersebut tiba dari Keraton Sumedang Larang dan disambut langsung oleh Bupati Bogor, Rudy Susmanto, dalam sebuah kirab budaya yang meriah dan penuh makna sejarah, Senin 13 April 2025

Kirab Panji dan Mahkota Binokasih Sumedang Larang dimulai dari SMK Negeri 1 Cibinong menuju Auditorium Sekretariat Daerah Kabupaten Bogor. Acara ini menjadi simbol kebangkitan budaya Sunda dan awal dari pelestarian nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi warisan nenek moyang.

Turut hadir dalam prosesi kirab tersebut sejumlah tokoh penting dari berbagai kerajaan dan kesultanan Nusantara, antara lain Radya Anom Keraton Sumedang Larang Raden Luky Djohari Soemawilaga beserta permaisuri, Salatin Asyrof Azzahro Trah Kesultanan Andi Syahriansyah Alwi A., Forum Dzurriyat Kesultanan Banten Tubagus Irwan Kurniawan, perwakilan Kesultanan Riau Lingga Teungku Armizan Al Quds, perwakilan Kerajaan Pajajaran Raden Zubair, serta dari Kerajaan Samudera Pasai Syarif Haji Teuku Badrudin Syah.

Selain itu, tampak pula jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Bogor, seperti Wakil Bupati, Ketua DPRD, Danramil 0621/kab, Bogor Danlanud ATS, Kepala Kejaksaan Negeri, Ketua Pengadilan Agama, Ketua TP PKK, Sekretaris Daerah, dan para tokoh agama, seniman, budayawan, serta masyarakat yang antusias menyaksikan momen bersejarah ini.

Mahkota Binokasih merupakan benda pusaka yang sangat bersejarah. Dibuat pada abad ke-14 oleh Prabu Bunisora Suradipati dari Kerajaan Galuh, mahkota ini terbuat dari emas murni seberat 8 kilogram dan dihiasi batu giok lokal. Mahkota ini dahulu menjadi simbol kebesaran dan legitimasi kekuasaan raja-raja Sunda, sebelum akhirnya diwariskan kepada Kerajaan Sumedang Larang pasca runtuhnya Kerajaan Sunda.

Menurut Bupati Bogor, Rudy Susmanto, kehadiran Mahkota Binokasih di Bogor menjadi simbol titik awal kebangkitan Bumi Tegar Beriman. “Untuk pertama kalinya setelah sekian ratus tahun, Mahkota Binokasih kembali ke Kabupaten Bogor. Ini adalah kebanggaan besar bagi kami, karena bisa menyaksikan secara langsung mahkota yang menjadi simbol peradaban Sunda di masa lalu,” ujar Rudy dalam sambutannya.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan Keraton Sumedang Larang kepada Pemerintah Kabupaten Bogor, yang memperkenankan mahkota tersebut untuk singgah selama satu malam. “Ini bukan sekadar benda pusaka. Mahkota Binokasih adalah pengingat harga diri dan jati diri masyarakat Sunda yang luhur dan penuh martabat,” tegas Rudy.

Prosesi kirab dilakukan dengan khidmat dan meriah. Usai kirab, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi bertajuk Kepemimpinan Berlandaskan Filosofi Mahkota Binokasih, yang membahas nilai-nilai luhur kepemimpinan Sunda. Masyarakat kemudian disuguhi pesta rakyat yang semarak, dan malam harinya ditutup dengan pagelaran seni tradisional wayang golek.

Radya Anom Keraton Sumedang Larang, Raden Luky Djohari Soemawinata, menyampaikan bahwa Mahkota Binokasih bukan sekadar pusaka fisik, tetapi juga simbol kasih sayang, kebijaksanaan, dan identitas budaya. “Kirab ini bukan hanya seremoni, tapi juga langkah edukatif dan reflektif dalam memperkenalkan kembali jati diri bangsa,” ujarnya.

Momentum kembalinya Mahkota Binokasih ke Kabupaten Bogor ini menjadi pengingat akan kejayaan masa lalu dan semangat untuk terus menjaga warisan budaya di tengah tantangan zaman. Diharapkan, kehadiran mahkota ini menjadi penyemangat bagi generasi muda untuk terus mencintai dan melestarikan budaya lokal.
( Jhon )

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*