MEMBANGUN LITERASI PESERTA DIDIK

 

Kabarindonesianews-Literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Dalam perkembangannya, definisi literasi berkembang sesuai dengan tantangan zaman. Jika dulu definisi literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Saat ini, istilah Literasi juga mencakup kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, hal ini sejalan dengan pendapat Elizabeth Sulzby “1986”, Literasi ialah kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang dalam berkomunikasi “membaca, berbicara, menyimak dan menulis” dengan cara yang berbeda sesuai dengan tujuannya.

Secara etimologis literasi berasal dari bahasa Latin “literatus” yang berarti orang yang belajar. Dalam hal ini, literasi sangat berhubungan dengan proses membaca dan menulis.

Literasi memiliki tujuan sebagai berikut:

1. Meningkatkan pengetahuan dengan membaca berbagai informasi bermanfaat.

2. Meningkatkan kemampuan mengambil kesimpulan dari informasi yang dibaca.

3. Meningkatkan kemampuan memberikan penilaian kritis terhadap suatu karya tulis.

4. Menumbuhkan dan mengembangkan budi pekerti yang baik di dalam diri seseorang.

5. Meningkatkan nilai kepribadian melalui kegiatan membaca dan menulis.

6. Menumbuhkan dan mengembangkan budaya literasi di tengah masyarakat.

7. Meningkatkan kualitas penggunaan waktu sehingga lebih bermanfaat.

1. Menambah perbendaharaan kata “kosa kata” seseorang.

2. Mengoptimalkan kinerja otak karena kebiasaan membaca dan menulis.

3. Mendapat berbagai wawasan dan informasi baru.

4. Kemampuan interpersonal seseorang akan semakin baik.

5. Kemampuan memahami makan suatu informasi akan semakin meningkat.

6. Meningkatkan kemampuan verbal seseorang.

7. Meningkatkan kemampuan analisis dan berpikir seseorang.

8. Membantu meningkatkan daya fokus dan kemampuan konsentrasi seseorang.

9. Meningkatkan kemampuan seseorang dalam merangkai kata yang bermakna dan menulis.

Prinsip pengembangan literasi sekolah menurut Kylene Beers “2009”, adalah sebagai berikut:

1. Bersifat Berimbang

Setiap siswa memiliki kebutuhan yang berbeda satu dengan yang lain, sekolah harus menerapkan prinsip ini dengan menerapkan strategi dalam membaca dan variasi bacaan.

2. Bahasa Lisan Sangat Penting

Setiap siswa harus dapat berdiskusi tentang suatu informasi dalam diskusi terbuka yang memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat, dengan begitu diharapkan siswa mampu menyampaikan pendapatnya dan melatih kemampuan berpikir lebih kritis.

3. Berlangsung Pada Suatu Kurikulum

Menurut Kylene Beers, seharusnya program literasi diterapkan pada seluruh siswa dan tidak tergantung pada kurikulum tertentu, dengan kata lain kegiatan literasi menjadi suatu kewajiban bagi semua guru dan bidang studi.

4. Pentingnya Keberagaman

Keberagaman ialah sesuatu yang layak untuk dihargai dan dirayakan di setiap sekolah. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menyediakan berbagai buku bertema kekayaan budaya negara Indonesia sehingga siswa lebih mengenal budaya bangsa dan turut serta melestarikannya.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa literasi bukan hanya sekedar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga meliputi kemampuan menyimak, memahami dan kemampuan berkomunikasi.

Sekolah sebagai lembaga yang mempersiapkan peserta didik dengan bekal pengetahuan dan keterampilan tentunya harus dapat secara cerdik memfasilitasi kemampuan literasi peserta didik dengan memanfaatkan teknologi komunikasi yang ada, dimana dapat dipastikan seluruh peserta didik memiliki gadget/handphone untuk pembelajaran.

Guru dapat memanfaatkan kemampuan teknologi peserta didik untuk membangun kemampuan literasi, tetapi tentunya harus diawali dengan kemampuan literasi guru, karena peserta didik yang literatif hanya lahir dari guru yang literatif.

Dalam hal pemberian tugas belajar, sebaiknya guru memanfaatkan teknologi informasi untuk pelaporan tugas belajar peserta didik, dalam hal ini penulis menyarankan agar laporan tugas belajar peserta didik dalam bentuk video, hal ini untuk menghindari laporan yang bersifat copy-paste.

Laporan berbentuk video memiliki beberapa keunggulan, karena akan mencakup beberapa kompetensi didalamnya dibanding laporan secara tertulis, seperti:

1. Menghindari copy-paste

Dalam hal pemenuhan tugas belajar peserta didik dimungkinkan untuk bertanya terhadap temannya dan membaca buku atau literatur yang ada. Hal ini tidak sepenuhnya salah tetapi tidak akan bermakna jika peserta didik hanya mencontoh dari sumber yang ada.

Berbeda jika laporan berbentuk video, dimana peserta didik harus melaporkan, berbicara sendiri berdasarkan pengetahuan yang diperolehnya.

2. Meningkatkan kemampuan transfer pengetahuan

Walaupun mungkin awalnya copy-paste, tetapi karena harus dilaporkan secara verbal mau tidak mau mereka akan berupaya membaca dengan teliti agar laporan verbalnya benar, hal ini akan membangun kemampuan mentransfer pengetahuan dari membaca, menyimak, memahami sampai kemempuan berbicara.

3. Meningkatkan kemampuan berbicara

Berbicara merupakan kemampuan atau kesanggupan seseorang dalam mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan gagasan dan perasaannya secara lisan kepada orang lain.

Karena harus melaporkan tugas secara verbal, peserta didik akan tertantang untuk berlatih berbicara, karena mungkin akan ditonton oleh guru dan teman temannya. Latihan berbicara mungkin akan dilakukan berulang ulang sampai peserta didik merasa yakin dan siap.

4. Meningkatkan kemampuan berbahasa

Menurut Tarigan, (2008:16) “berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekpresikan, menyatakan, atau menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan”.

Dalam menyampaikan laporan verbal peserta didik akan berusaha mengekspresikan pendapatnya dengan memperbanyak dan memerhatikan kosa kata dan bahasa tubuh untuk memperkuat pembicaraan.

5. Meningkatkan performa/penampilan

Karena video yang dilaporkan akan dilihat dan ditonton orang lain maka peserta didik akan berupaya berpenampilan baik, santun, dan berpakaian rapih. Hal ini sangat bagus sebagai pembiasaan siswa agar selalu tampil santun dan rapih.

6. Meningkatkan persaingan

Secara psikologis dalam pembelajaran tentunya aka nada persaingan diantara peserta didik. Persaingan akan terlihat secara nyata dalam laporan berbentuk video karena diantara mereka pasti juga akan melihat video temannya. Peserta didik akan berusaha tampil sebaik mungkin dan memberikan laporan sejelas mungkin.

7. Meningkatkan kemampuan teknologi informasi

Perangkat teknologi informasi sejatinya sudah dimiliki peserta didik, tetapi belum seluruh vitur yang ada dimanfaatkan. Dengan laporan berbentuk video peserta didik dipacu untuk mengerti tentang shooting, angle, editing, sampai mungkin mengupload ke youtobe. Tidak tertutup kemungkinan dari kegiatan ini akan lahir sineas, fotographer, youtober bahkan public speaker.

Dunia pendidikan saat ini tidak bias mengesampingkan teknologi, sebaliknya kita harus dapat memanfaatkan tiknologi dalam pembelajaran, karna itu dapat menumbuhkan kompetensi-kompetensi lain yang dapat menjadi bekal hidup peserta didik dikemudian hari. Tugas kita memberikan bekal hidup dan menggali potensi diri peserta didik. Tetapi sekali lagi peserta didik akan literatif jika gurunya literatif.

Sumber / Penulis:
Nana Supriyatna, S.Pd., M.M.

Wartawan : Fauzy Vio

Oleh Nana Supriyatna, S.Pd., M.M.
(Kepala TAS SMAN 1 TENJOLAYA)

Tenjolaya, 11 November 2021

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*