Hari Hutan Sedunia 2026 di Cijeruk, Kementerian UMKM Tekankan Sinergi Hutan dan UMKM

Kabarindonesianews – Bogor, Rabu (8/4/2026) – Peringatan Hari Hutan Sedunia 2026 di Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara pelestarian lingkungan dan pengembangan ekonomi masyarakat berbasis UMKM.

Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian UMKM, Sudaryano R. Lamangkona, menegaskan bahwa kawasan hulu seperti Cijeruk memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mencegah bencana hidrometeorologi yang kian meningkat.

“Wilayah ini berada di hulu, sehingga keberadaan hutan harus benar-benar dijaga. Ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat,” tegasnya.

Menurutnya, hutan tidak hanya berfungsi sebagai penyangga ekosistem, tetapi juga menjadi sumber bahan baku utama bagi pelaku UMKM, khususnya dalam pengembangan produk berbasis ekonomi hijau.

“Konsep ekonomi hijau membuka peluang besar. Produk berbahan baku organik dari hutan yang terjaga memiliki nilai tambah dan mampu bersaing hingga pasar internasional,” ujarnya.

Legalitas UMKM Masih Jadi Catatan

Dalam kunjungannya, Sudaryano juga menyoroti masih rendahnya tingkat legalitas pelaku UMKM di wilayah tersebut. Sejumlah produk unggulan seperti madu hutan dan propolis diketahui belum memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) maupun sertifikasi BPOM.

“Kualitas produk sudah baik, tetapi harus diikuti legalitas. Ini penting agar produk bisa naik kelas dan menjangkau pasar yang lebih luas,” katanya.

Ia mendorong pemerintah daerah untuk lebih aktif memberikan pendampingan agar pelaku UMKM mampu memenuhi standar yang ditetapkan.

Dorong Integrasi dengan Program MBG

Kementerian UMKM turut menekankan pentingnya integrasi produk lokal ke dalam program strategis nasional melalui skema SPPG dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Produk seperti ikan, telur, sayuran, hingga susu dinilai memiliki potensi besar untuk masuk dalam rantai pasok program tersebut.

Cijeruk Mulai Bangun Ekosistem UMKM

Camat Cijeruk, Mochamad Sobar Mansoer, mengungkapkan bahwa pembangunan ekosistem UMKM di wilayahnya mulai menunjukkan hasil positif.

“Dari enam desa, saat ini tiga desa sudah mampu menyuplai kebutuhan ke SPPG, mulai dari telur, ikan hingga sayuran. Ini akan terus kami kembangkan,” ungkapnya.

Ia menegaskan komitmen pihak kecamatan untuk memperkuat kolaborasi agar UMKM lokal dapat tumbuh dan berkontribusi terhadap perekonomian daerah.

2.000 Lebih Pohon Ditanam, Gerakan Berkelanjutan

Dalam kegiatan tersebut, Forum Komunikasi Masyarakat Gunung Salak bersama berbagai pihak menanam lebih dari 2.000 pohon di sejumlah titik. Jenis pohon yang ditanam meliputi damar, mahoni, pala, matoa, hingga tanaman buah.

Ketua panitia, Haidin Deni Supriyadi, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan gerakan nyata yang berkelanjutan.

“Kami murni dari masyarakat. Sudah lebih dari 4.000 pohon kami tanam dan rawat. Jika ada yang mati, kami ganti,” ujarnya.

Ia berharap adanya perhatian pemerintah serta dukungan pihak swasta, khususnya melalui skema jasa lingkungan, agar gerakan pelestarian ini terus berjalan dan memberikan manfaat ekonomi.

Sinergi Lingkungan dan Ekonomi Jadi Kunci

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan. Kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem yang berkelanjutan.

Dengan langkah tersebut, kawasan hulu diharapkan tetap terjaga, sekaligus membuka peluang ekonomi baru melalui pengembangan UMKM berbasis sumber daya alam.

(Jemi Kurniawan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*